Minggu, 04 Maret 2012

Pendakian G.Semeru

28 Desember 2011 – 1 Januari 2012

“Bertaruh dengan Ekstrimya Cuaca Semeru”

Inilah pendakian yang sudah saya mimpi-minpikan sejak lama, yaitu pergi mendaki ke Gunung Semeru. Bahkan bagi kalangan para pendaki gunung ini adalah gunung favorit para pendaki di Indonesia karena selain merupakan Gunung tertinggi di Pulau Jawa, gunung ini juga mempunyai trek yang landai dan tidak memberatkan bagi kalangan pendaki pemula dan juga mempunyai pemandangan yang sangat kharismatik dengan danau Ranu kumbolonya dan kawah Jonggring Salokanya yang masih aktif mengeluarkan letusannya tiap setengah jam sekali. Hal-hal menarik itulah yang semakin membuat saya tepesona dan tertarik untuk segera melakukan pendakian ke gunung ini, apalagi ditambah cerita keberhasilan teman-teman saya yang sudah lebih dulu berhasil menaklukan puncaknya yang membuat semangat saya semakin menggebu-gebu.
 

Gunung Semeru adalah salah satu gunung aktif tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3676 mdpl, gunung ini bertipe strato volcano yang bentuknya mengerucut akibat pergerakan magma yang terus aktif dibawahnya. Gunung ini dalam kategori selalu waspada atau siaga karena selalu tiap hitungan menit aktif mengeluarkan letusan kecil yang disertai asap yang mengandung gas-gas beracun dan batu berkerikil atau bahkan bebatuan lava. Hal inilah yang membuat pendakian semeru tampak istimewa dibanding pendakian ke gunung aktif lainnya di Indonesia, tetapi yang namanya gunung tetaplah gunung. Kita tidaklah bisa menerka-nerka sifatnya. Terkadang bersahabat dengan kita, terkadang juga tidak. Gunung Semeru memiliki puncak/spot tertinggi yang dinamakan puncak “Mahameru”, di puncak inilah terdapat tugu in memoriam Soe Hok Gie bersama rekannya Idhan Lubis yang dulu ditemukan meninggal di puncak ini akibat menghirup gas beracun yang dikeluarkan oleh Semeru. Untuk mendaki Gunung Semeru terdapat jalur utama yaitu melalui desa RanuPane yang dapat kita tempuh dari Malang dan Lumajang. Kalau lewat Kota Malang, kita dapat turun di terminal Arjosari dan menumpang angkutan menuju Tumpang. Dari tumpang ada 2 alternatif kendaraan, pilihan pertama kita dapat menyewa Hartop dengan tarif yang agak mahal tentunya yaitu kira Rp.450.000,- yang dapat kita isi max 15 orang dan pilihan kedua kita dapat menumpang truk pengangkut sayur milik warga dengan tarif yang murah yaitu cukup Rp.30.000,-per orangnya.
Cerita kali ini saya mulai dari rencana awal sebelum mendaki yaitu mengenai penetapan waktu yang tepat untuk melakukan pendakian. Kebingungan melanda saya ketika saat itu saya dihadapkan 2 opsi pilihan yaitu ikut teman soib saya yang bernama Sas atau berangkat bersama-sama setelah UAS bersama teman-teman kampus. Selain faktor tersebut, saya juga harus memperhitungkan efisiensi waktu, cuaca dan biaya perjalanan. Kalau ikut teman saya, jadwal sudah jelas dan terencana yaitu sekitar tanggal 27 desember balik tanggal 31 desember karena dia hanya dapat jatah libur kerja segitu dan saya berkeyakinan UAS pasti diselenggarakan di Awal Januari. Kalau ikut teman-teman kampus, jadwal belum jelas dan belum terencana karena UASnya belum ditentukan tanggal mulainya dan akhirnya,  juga cuaca saat itu sangat tidak bisa diprediksi. Setelah berpikir masak-mask, akhirnya saya memutuskan ikut sahabat soib saya yaitu berangkat tanggal 27 Desember. Sebelum berangkat besoknya, malamnya kami diskusi untuk membicarakan persiapan perjalanan besok. Kami diskusi panjang lebar mengenai pengalaman-pengalaman kawan-kawan atau bahkan orang-orang yang pernah naik kesana dan kendala apa saja selama perjalanan pendakian kesana, karena pengalaman adalah guru yang terbaik menurut kami. Belajar dari pengalaman diri sendiri dan orang lain membuat kami semakin matang dalam mengkonsep dan memperhitungkan untung dan ruginya dari perjalanan ini. Kami mempersiapkan yang terbaik untuk pendakian kali ini, dan baru kali ini kami mendaki membawa peralatan lengkap seperti tenda dan sleeping bag. Kami sadar pendakian ke Semeru ini bukan main-main karena berhubungan dengan nyawa kami sendiri taruhannya. Hipotermia adalah penyebab kematian paling utama bagi para pendaki yang kebanyakan melanda para pendaki yang selalu kurang siap ditinjau dari perlengkapan dan perbekalannya, sehingga tubuh mereka tak kuat lagi menahan hawa dinginnya gunung. Apalagi di Gunung ini terkenal dengan cuaca ekstrimnya yang biasanya melanda dari bulan Desember sampai Maret yaitu saat musim penghujan, sehingga kamipun tak lupa membawa rain coat untuk mengantisipasinya. Tak lupa perbekalan yang biasanya hanya membawa beras dan mie instan, kami tambah dengan sardine, dan makanan pendukung seperti ketela, kentang dan singkong.
Keesokan paginya di kediaman kami masing-masing, saya yang sudah menyiapkan ransel 80 liter untuk membawa barang-barang seperti sleeping bag, beras, sepatu, pakaian, jaket, kompor, makanan dan minuman, senter, perlengkapan memasak dan obat-obatan. Sedangkan Sas membawa sleeping bag, jaket, pakaian, sepatu, makanan dan minuman, dan tak lupa tenda. Karena kami adalah Backpacker Nekad, kami selalu mengendarai sepeda motor untuk bepergian kemanapun. Kamipun Start dari rumah sekitar pukul 10.30 WIB dan langsung meuncur menuju Tumpang – Malang. Belum sampai ditempat tujuan, dalam perjalanan ban sepeda saya sudah bocor 2 kali dan keduanya bocor di jalan pantura Gempol dan Purwosari-Pasuruan. Akhirnya saya terpaksa mengorek kantong saya lebih dalam karena untuk membeli ban dalam baru untuk mengganti ban dalam lama yang sudah penuh tembelan dimana-mana. Kami sempat berpikiran pesimis bahwa perjalanan kali ini kurang diridhoi oleh yang Maha Kuasa. Tapi kami tetap yakin untuk melakukan ekspedisi ini karena sudah berniat dari hati paling dalam dan sudah mendapat izin dari orang tua kami masing-masing. Akibat ban bocor tadi waktu tempuh kami menjadi molor dari jadwal semula, dari Purwosari kami berangkat sekitar pukul 12.30 WIB dan Sampai di Tumpang-Malang sekitar pukul 14.00 WIB. Kami istirahat dan sholat sebentar di pom bensin sana sambil mengisi bahan bakar untuk kendaraan kami. Pukul 14.30 WIB kami melanjutkan perjalanan lagi menuju desa Ranu Pane yang merupakan basecamp terakhir bagi para pendaki yang ingin mendaki ke Semeru. Dibutuhkan waktu tempuh yang agak lama untuk menuju desa ini, karena kondisi jalan yang rusak dan berbatu-batu membuat kendaraan kami kesulitan untuk melewatinya. Apalagi kami harus hati-hati betul karena jalanan licin juga sehabis diguyur air hujan, serta was-was takut ban kami meletus lagi. Mental kami disini betul-betul diuji, sebelum sampai di desa Gubuk klakah terdapat banyak tanjakan yang memaksa salah satu dari kami untuk turun karena kendaraan saya tak kuat untuk kami tumpangi berdua, apalagi ditambah beratnya barang bawaan kami. Tapi sepanjang perjalanan menuju Ranu Pane meskipun berat, kami diobati oleh indahnya pemandangan yang disuguhkan oleh alam yang masih asri dan menakjubkan. Apalagi setelah kami sampai di persimpangan jalan yang menuju ke Bromo dan Ranu pane, Disana kita dapat menikmati indahnya Bromo dari atas. tetapi saat itu kami tidaklah beruntung, karena kabut tebal sedang menyelimuti Bromo.


Tak terasa kami sudah sampai didesa Ranu Pane sekitar pukul 16.35 WIB. Ranu Pane sebenarnya adalah nama sebuah danau yang terletak di sebelah desa ini dan sebelah Ranu pane masih terdapat danau Regulo yang merupakan satu kompleks danau-danau kecil di Taman nasional Bromo Tengger Semeru. Kami singgah di sebuah rumah paling ujung dekat dengan lapangan bola dan danau Ranu Pane untuk menitipkan kendaraan kami dan sambil mengisi perut kami dengan bakso yang kebetulan ibu yang punya rumah sambil jualan beberapa makanan juga. Kami sengaja menitipkan kendaraan kami di rumah salah satu rumah penduduk, karena kami diberi informasi oleh orang yang menyewakan tenda ke kami disitu tarifnya lebih murah bahkan tak menentukan tarif parkir alias seikhlasnya kita. Setelah itu kami menuju masjid di desa itu yang kebetulan dekat dan langsung melakukan sholat ashar terlebih dahulu di masjid itu, setelah selesai melakukan sholat kami langsung berangkat menuju pos perijinan Ranu Pane. Disana sebelum melakukan perijinan kami singgah untuk sholat maghrib terlebih dahulu di mushollanya, dan seusainya kebetulan saya bertemu teman-teman satu kampus yaitu dari ITS jurusan Teknik kelautan. Dalam benak pikiranku langsung teringat si Azhar dan Arda yang dulu pernah ketemu sama kami di Arjuno, sayapun menanyakan ke mereka apakah si Azhar dan Arda ikut juga dalam rombongan mereka ke semeru? Mereka menjawab hanya si Azhar yang ikut dan kebetulan dia belum juga kembali dari tadi dan ini mereka mau pulang tinggal menunggu rombongan si Azhar datang. Mereka menjelaskan tujuan mereka hanya ngecamp di Ranu Kumbolo beberapa hari, disana mereka dihadapkan cuaca yang sangat tak bersahabat alias hujan terus menerus sehingga mereka tak mampu berkutik dalam tenda. Dan akhirnya merekapun memutuskan pulang karena cuaca yang tak bersahabat ini. Karena buruknya kondisi cuaca inilah pendakian ke semeru pada bulan desember hingga april biasanya ditutup, kalaupun mau nekad mendaki hanya diperbolehkan sampai pos Kalimati.
Sebelum kami memutuskan untuk berangkat, kami mencoba ke kantor perizinan untuk mengurus perizinan. Karena pihak perizinan tak memberi kebebasan kami untuk melakukan pendakian ke puncak, akhirnya kami memutuskan berangkat tanpa izin alias illegal. Kamipun berangkat dari pos perijinan malam itu juga sekitar pukul 19.30 Malam. Ditemani senter kami nekad berangkat malam itu juga karena ingin mengejar waktu supaya dapat ngecamp di Ranu kumbolo dan melihat indahnya matahari terbit di Ranu kumbolo. Tanpa ada perasaan takut dan was-was kamipun berangkat dengan yakin, setelah melewati hamparan ladang di area Ranu Pane. Kamipun mulai memasuki kawasan hutan yang jalannya agak mulai menanjak, jalanan pun kebanyakan melewati semak belukar dan terkadang ada satu dua pohon yang roboh karena terjangan badai semeru beberapa hari yang lalu. Dalam asyiknya perjalanan, rekan saya kok merasa janggal dalam perjalanan ini. Dia akhirnya memutuskan berhenti sejenak dan mencoba mengecek barang-barangnya. Dan ternyata benar ada salah satu barang penting milik kami yang ketinggalan di pos perijinan yaitu tenda. Untung masih belum jauh, kamipun memutuskan kembali untuk mengambilnya kembali dan terus berdoa semoga tenda tersebut tak hilang dicuri orang lain. Ditemani rintik-rintik hujan yang mulai turun, sampailah kami kembali ke pos perijinan dan langsung menuju musholla untuk mengecek apakah tenda kami masih ada disana. Dan Alhamdulillah ternyata tenda tersebut masih ada, kami takut sekali tersebut hilang. Karena apabila tenda tersebut hilang, selain kami harus mengganti rugi kepada pemiliknya, ekspedisi inipun akan gagal juga karena tenda merupakan elemen penting bagi kami untuk melindungi kami dari hawa dingin saat istirahat.
Setelah ketemu, kami ingin melanjutkan perjalanan lagi dan berharap cuaca segera membaik. Saat malam itu gerimis masih turun terus menerus yang membuat kami semakin kedinginan berada ditempat itu. Akhirnya kami memutuskan istirahat sejenak sambil menunggu cuaca membaik, kami memilih istirahat di sebuah pondok/bangunan yang sudah tak terpakai yang biasanya digunakan para pendaki untuk bermalam. Kamipun banyak ngobrol dengan pendaki lain, terutama saat diteras pondok kami bertemu pendaki yang berasal dari Bekasi. Mereka jauh-jauh hari menyiapkan diri untuk mendaki gunung ini yaitu saat libur panjang kerja atau istilahnya didunia industry saat tutup buku di akhir tahun. Meskipun mereka orang yang baru kami kenal, ternyata inilah bedanya para pendaki dengan orang lain. Sifat kekerabatan dan kekeluargaan inilah yang diajarkan oleh kegiatan ini. Para pendaki selalu menganggap para pendaki lain seolah-olah keluarga atau teman dekat mereka, sehingga mereka tak risih untuk bercerita, sharing bersama, dan saling berbagi. Di pondok tersebut kami juga sempat bertemu kawan lama yaitu si Azhar yang kebetulan baru sampai dari perjalanan turunnya dari ranu kumbolo. Dia bercerita bahwa kondisi cuaca disana sagatlah buruk, tiap hari hujan dan dia tak berkutik hanya berada dalam tenda saja. “Aku cuma bisa mendoakan kalian semoga bisa nyampek di puncak dengan selamat, kalaupun tidak bisa kapan-kapan kita naik bareng-bareng lagi aja bro kesini!!! “ kata si Azhar. Setelah itu dia berpamitan mau pulang karena truk rombongan dia sudah menunggu dari siang. Kami sempat berpikiran meskipun ekspedisi ini tidak sesuai dengan rencana, kami harus tetap melanjutkan ekspedisi ini dan apapun kondisinya kami harus tetap bisa sampai ke puncak. Dalam guyuran hujan malam itu, kami mencoba memejamkan mata sejenak di pondok tersebut.
          Kemudian sekitar pukul 03.00 pagi kami terbangun dan melihat kondisi cuaca yang sudah membaik, kami memutuskan untuk berangkat saat itu juga. Kami berangkat saat para pendaki lainnya masih terlelap dalam dalam dinginnya malam itu, kami berangkat dengan satu tujuan harus bisa sampai Ranu kumbolo sekitar jam 06.00 pagi sambil istirahat sejenak untuk menikmati indahnya Ranu kumbolo. Berbekal nyala lampu senter di pagi yang masih gelap buta itu, kami berjalan menyusuri lebatnya semak belukar yang masih basah akibat guyuran hujan semalam. Alhasil pakaian kami basah akibat seringnya bersinggungan langsung dengan semak belukar tadi. Meskipun treknya agak landai dan tak terlalu sulit untuk dilalui, kami juga harus berhati-hati terhadap banyaknya pohon yang tumbang yang menutupi trek dan semak belukar yang terkadang batang-batangnya menyulitkan kami untuk melewatinya. Setelah lama berjalan akhirnya kami tiba di pos pertama  jalur antara Ranu pane – Ranu Kumbolo yang biasanya disebut Watu rejeng. Kami istirahat sejenak sambil menyantap ketela untuk mengisi energy kami kembali, di pos 1 ini terdapat bangunan seperti pondok untuk tempat istirahat para pendaki. Di watu rejeng ini sendiri terdapat 3 pos untuk tempat para pendaki istirahat, hal ini mengindikasikan jauhnya jarak yang ditempuh untuk ke Ranu kumbolo. 


  
Dibutuhkan waktu tempuh hingga 5-6 jam perjalanan dengan melewati beberapa bukit, memang trek yang disuguhkan adalah trek landai tetapi dibutuhkan jarak sangat jauh untuk sekedar memutari beberapa bukit tersebut. Bukit-bukit tersebut memang sengaja sebagai penguji mental kami sebelum kami sampai di tempat yang ibaratnya sebagai surga di Semeru ini yaitu danau Ranu Kumbolo, Bersakit-sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian itulah sebuah peribahasa yang menggambarkan keadaan kami saat itu. Tanpa adanya usaha tak akan mungkin bisa menjumpai hal-hal baru yang sebagian orang mustahil untuk dilakukan. Setelah berjalan beberapa jam dengan pakaian yang sudah basah kuyub akibat terlalu lama bersinggungan dengan basahnya embun yang menempel di dedaunan semak belukar, perjalanan ini akhirnya menunjukkan hasil yaitu dari kejauhan kami disambut pemandangan yang sangat indah berupa kumpulan air yang diapit beberapa bukit hijau. Meskipun sekeliling kami masih terdapat bekas tanda kebakaran hebat yang melanda vegetasi di daerah ini beberapa bulan lalu, hal itu tetap tak mengurangi indahnya Ranu kumbolo dari kejauhan. Langkah kami percepat untuk cepat sampai dan bisa mengabadikan momen-momen ini sebelum kabut turun kembali menutupi keindahan ranu kumbolo. Kami berjalan menyusuri pinggiran danau ini hingga sampailah kami di rest area tempat para pendaki mendirikan tenda dan beristirahat. Benar-benar sangat indah ciptaan Tuhan ini, kami duduk sebentar dihadapan bening dan tenangnya air Ranu ini sambil menikmati indahnya. Ranu kumbolo berada di ketinggian 2400 mdpl yang merupakan rest area para pendaki sebelum melanjutkan pendakian ke puncak Mahameru dan para pendaki atau penduduk yang sengaja datang kesini hanya untuk memancing ikan di danau ini.





 Di ranu kumbolo ini kami tak mendirikan tenda karena kami sampai disini baru sekitar jam 09.00 WIB, kami berencana mendirikan tenda nanti di Pos Kalimati saja. Karena langit saat itu mulai mendung, kami pun memilih bangunan dekat danau ini untuk tempat istirahat dan memasak makanan. Kami membongkar carrier kami masing-masing dan mengeluarkan peralatan memasak dan makanan untuk segera dimasak. Kami memasak air terlebih dahulu untuk membuat kopi panas, baru memasak nasi, mie dan ikan sardine. Sambil menunggu masakan matang,  segelas kopi panas dan alunan lagu Dewa 19 “Mahameru” yang merupakan lagu wajib bagi para pendaki Semeru menemani kami. Tak berselang lama hujanpun turun dengan derasnya yang menandakan cuaca sudah mulai tak bersahabat lagi. Nasi, Mie dan ikan sardine pun telah matang dan siap untuk disajikan. Kamipun makan dengan lahapnya setelah semalam tak makan nasi sama sekali. Sungguh menjadi seorang bacpaker banyak memberikan perubahan bagi kita, disini kita tak akan mengenal lagi istilah manja. Disini kita dididik oleh alam untuk mandiri dan mensyukuri apapun yang alam berikan kepada kita. Sambil menunggu hujan reda, kamipun bersiap-siap merapikan barang bawaan kami untuk dimasukkan ke carrier lagi. Setelah cuaca agak reda, pukul 12.00 WIB kami segera bersiap-siap melanjutkan perjalanan kembali tetapi kami harus mengisi perbekalan air yang mulai habis. Botol-botol kami isi air dari ranu kumbolo dan mengambilnya pun agak jauh dari tepi agar air yang kami ambil benar-benar bersih. Setelah semua beres, “Tanjakan Cinta” sudah ada didepan mata kami untuk segera kami taklukan. Julukan tanjakan cinta diberikan ke salah satu trek yang menanjak yang letaknya sehabis Ranu kumbolo menuju Oro-oro Ombo dan asal usul nama tersebut berasal dari bentuk trek yang kalau dilihat dari jauh dulunya membentuk gambar hati atau cinta.



 

Setelah melewati tanjakan cinta, kami disuguhkan pemandangan berupa padang savana yang luas yang disebut Oro-oro Ombo. Sungguh banyak tempat yang indah pemandangannya digunung ini, jadi tidak salah gunung ini adalah favorit bagi fotografer alam. Disini kita terdapat 2 jalur yaitu jalur melewati jalanan pinggiran bukit dan jalur turun langsung kebawah melewati padang savanna. Kami memilih lewat trek pertama yaitu melewati bukit karena jalur yang melewati savanna keliatan becek saat itu.


 
Setelah melewati padang savanna yang luas yaitu Oro-oro Ombo, sampailah kami di kawasan hutan cemara yang disebut Cemoro kandang. Disini jalanan sudah mulai menanjak kembali sehingga tidak jarang kami sering berhenti untuk menghela nafas sejenak. Kondisi Hutan cemoro kandang saat itu habis terbakar saat musim kemarau beberapa bulan yang lalu. Saking panasnya suhu saat itu, banyak ilalang dan rerumputan yang mengering sehingga api sangatlah mudah membakar kawasan ini. Kejadian terbakarnya hutan di Semeru ini berlangsung dari bulan Juli-Agustus 2011 yang lalu.



Setelah beberapa jam berjalan dan mendaki, Sampailah kami dikawasan hutan edelweiss yang saat itu belum waktunya musim berbunga yang disebut sebagai kawasan jambangan. Setelah berjalan beberapa jam, sekitar pukul 16.00 WIB kami sampai di pos Kalimati yang disambut turunnya hujan akibat kabut tebal yang turun dari puncak Semeru. Pos kalimati adalah base camp terakhir para pendaki sebelum ingin mendaki puncak mahameru dan disinilah merupakan batas akhir yang diizinkan untuk mendaki, selebihnya sudah tidak diperbolehkan lagi karena status Gunung Semeru saat itu masih Waspada. Kami langsung mendirikan tenda di bawah guyuran hujan yang deras, karena langit saat itu sudah mulai petang. Tak salah kalau tenda yang kami bangun akhirnya basah dan bagian dalamnya kemasukan air. Hujanpun berlanjut hingga sepanjang malam yang membuat tenda kami tak nyaman untuk kami tinggali karena lama-kelamaan air dari luar merembes kedalam tenda dan membuat barang-barang kami basah semua termasuk sleeping bag kami. Kami terpaksa tidur dalam basahnya tenda dan hawa dingin yang menusuk malam itu dan berharap esok pagi hujan sudah reda dan bisa melanjutkan tujuan utama kami yaitu menaklukan puncak Mahameru. Waktu terus bergulir dan hujanpun tak kunjung reda, saya terbangun beberapa kali karena menggigil kedinginan.
            Keesokan paginya hujan mulai reda sekitar pukul 04.00 WIB, tapi saat itupun tak ada pendaki yang keluar untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Mungkin waktunya sudah terlambat pikiran mereka, kamipun langsung buru-buru bangun dan bergegas untuk mencoba melanjutkan perjalanan ke puncak. Biarpun kami sadar sangat terlambat, tapi kami memaksa untuk melanjutkan perjalanan ini. Kami berangkat berdua berbekal coklat dan satu botol air minum, kami melewati hutan cemara dengan jalanan yang menanjak curam. Mataharipun sudah terbit di celah-celah pepohonan pinus yang semakin membuat perjalanan yang sebenarnya dalam benak kami sungguh tak enak untuk diteruskan. Di tengah perjalanan yang hampir sampai ke Arcopodo akhirnya kami putus asa dan berunding kembali apakah perjalanan ini diteruskan apa tidak, karena perjalanan ini masih membutuhkan waktu yang lama dan kamipun belum tahu apakah bisa sampai tepat waktu dan kondisinya masih aman untuk melakukan pendakian. Semeru mulai aktif pagi itu dengan menyemburkan asap yang berupa gas beracun berserta batu-batu kerikil sekitar pukul 09.00 WIB, jadi diatas jam itu para pendaki sebaiknya harus turun dari puncak  bila tak ingin nyawa menjadi taruhannya. Untuk mendaki puncak Mahameru dibutuhkan waktu setidaknya 6 jam, jadi waktu yang terbaik untuk mendaki puncak semeru sekitar pukul 00.00 atau 01.00 WIB. Akhirnya kami terpaksa  memutuskan untuk turun kembali ke Pos Kalimati dan berunding lagi untuk mencari solusi yang terbaik dalam keadaan saat itu.


 
Sekembalinya di Pos kalimati, kami melihat para pendaki lain sedang sibuk-sibuknya mengeluarkan barang-barang mereka dari tenda untuk dijemur diluar yang kebetulan cuaca saat itu panas. Saya pun tak mau mengabaikan kesempatan ini, semua pakaian dan sleeping bag yang basah akibat hujan semalam saya keluarkan untuk dijemur. Pagi itu banyak pendaki yang memutuskan untuk pulang karena kebanyakan mereka beranggapan sudah mustahil alias tak mungkin lagi untuk melakukan pendakian ke puncak dengan cuaca ekstrim seperti malam kemarin. Saya pun sempat putus asa dan ingin kembali pulang saja karena cuaca yang tak kunjung membaik seperti kemarin malam, saya berusaha membujuk teman saya agar kembali saja dan kita lanjutkan kapan-kapan lagi di waktu yang lain. Tapi dia tetap berkemauan keras tak mau kembali sebelum bisa menaklukan puncak Mahameru walaupun pagi ini gagal, esok pagi dengan kondisi apapun dia akan tetap lanjut melanjutkan ekspedisi ini walaupun nyawa menjadi taruhannya. Inilah teman paling nekad dan paling teguh prinsipnya yang membuat saya minder dari sempat putus asa menjadi bersemangat kembali dan optimis kembali bisa melanjutkan ekspedisi ini. Dalam hati kami banyak berdoa semoga esok pagi diberikan cuaca yang baik dan kesempatan untuk melakukan pendakian ke puncak, hanya doa itu saja yang bisa kami panjatkan saat itu. Waktu luang saat itu kami pergunakan untuk memindahkan tenda kami ketempat yang lebih baik, karena tempat tenda sebelumnya merupakan area resapan air sehingga banyak air menggenangi bawah tenda kami saat hujan turun. Kebetulan saat itu tenda kami bersebelahan sama pendaki yang berasal dari Ambon dan Makassar. Ya inilah enaknya menjadi seorang pendaki, keakraban dan kebersamaan sangat cepat kami peroleh meskipun baru semenit lalu berkenalan dengan mereka. Bahkan kami diajak makan masakan mereka yang saat itu terbilang istimewa buat kami meskipun cuma nasi dengan lauk ikan asin campur sayur sop. Hal yang beginilah yang sebenarnya saya harapkan untuk bangsa ini, kita adalah satu bangsa meskipun berbeda-beda suku tapi tetap satu tanah air yaitu Indonesia.
Karena saat itu cuaca memang sangatlah bagus dan cerah, mereka mengajak kami untuk mendirikan tenda di Arcopodo saja, supaya waktu pendakian bisa lebih cepat. Tapi kami tetap memutuskan berangkat dari Kalimati saja karena trek menuju Arcopodo sangatlah tak bersahabat dan kami mempersilahkan mereka berangkat duluan dan janjian ketemu di puncak Mahameru esoknya. Sore pun menjelang dan satu dua pendaki baru yang berdatangan di Kalimati, doa dan optimisme kami seolah didengar oleh Tuhan. Malam itu Tuhan benar-benar mendengarkan do'a kami berdua, kami benar-benar diberikan cuaca yang sangat cerah bahkan cahaya bulanpun terlihat dengan jelas dari celah dedaunan pohon pinus diatas tenda kami. Kamipun beristirahat sambil menyiapkan stamina untuk perjalanan yang bersejarah bagi hidup kami ini. Sebelum pendakian dimulai kawan saya mengeluh badannya kurang fit dan batuk terus menerus sepanjang malam itu. Tak ingin perjalanan kami gagal, dia saya suruh minum obat dan sesegera mungkin istirahat. Jam 24.00 WIB kami terbangun karena banyak para pendaki yang keluar dari tendanya untuk siap-siap melakukan pendakian malam itu. Kami seolah ketinggalan karena tenda disamping kami sudah keliatan kosong semua, memang malam itu benar-benar malam yang sangat bagus untuk melakukan pendakian ke puncak. Padahal di bulan-bulan seperti ini cuaca disini hujan setiap hari, sungguh beruntungnya kami bisa mendaki ke puncak saat sebagian orang takut akan kejamnya cuaca di semeru. Keluar dari tenda seakan kami masuk dalam lemari es saja, entah suhu dimalam itu keliatannya 0 derajat. Tak ingin berlarut-larut dalam kedinginan, sayapun mendobel hingga 4 lapis potong baju untuk saya kenakan agar badan ini tidak menggigil kedinginan. Kamipun berangkat Cuma berbekal sebotol air minum dan coklat, perjalanan pun dimulai dengan berjalan melewati lebatnya hutan di kaki gunung semeru. Perjalanan ke puncak membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam, hal ini membuat kami harus bisa secepat mungkin mengejar sunrise di puncak.
Dengan trek yang terus menanjak dan sangat menantang, kami berjalan terus hingga sampailah kami di Arcopodo. Nama Arcopodo berarti arca kembar yang dulunya ditempat ini memang benar terdapat Arca kembar sebagai penanda lokasi ini. Ditempat ini kami mengstirahatkan tubuh sejenak sambil minum air dan makan sedikit coklat dari bekal yang kami bawa, dan ternyata disini kami bertemu lagi dengan kawan-kawan pendaki dari Ambon. Mereka baru mau berangkat karena mereka agak telat bangun tadinya. Seolah tak ingin berlama-lama untuk istirahat, sayapun bangun dan berpamitan ke mereka untuk melanjutkan perjalanan lagi. Setelah sejam berjalan sampailah kami di batas vegetasi di gunung ini yaitu di cemoro tunggal. Cemoro tunggal sebenarnya sebuah pohon yang tumbuh paling terakhir di lereng semeru dan menjadi pembatas antara hutan pohon cemara dan pasir di lereng semeru. Tapi cemara tersebut sudah hilang alias roboh akibat longsoran pasir dari Semeru beberapa tahun yang lalu. Dari sinilah perjalanan yang sebenarnya dimulai yaitu perjalanan melewati pasir, dari sini juga sudah terlihat puncak gunung semeru biarpun saat itu masih gelap. Kami memulai perjalanan dengan melewati tanah berpasir dan berbatu. Inilah taste nya mendaki gunung ini, kita berjalan naik 5 langkah dan merosot turun 3 langkah dan seterusnya karena kita memang lagi berjalan diatas pasir yang licin. Untungnya kami memakai sepatu, seandainya tidak entah kaki kami jadi apa nantinya. Karena perjalanan disinilah yang paling berat dan membutuhkan stamina ekstra untuk melakukannya, jadi memang benar disinilah perjalanan yang sangat menghabiskan waktu. Para pendaki yang diantaranya kami juga saat itu entah berapa kali istirahat. Baru berjalan beberapa meter sudah istirahat dan seterusnya, apalagi kami terkadang sampai merangkak dan memanjat apabila pasir yang kami pijaki benar-benar licin dan membahayakan untuk dilewati. Setelah 4 jam berjalan melewati ganasnya pasir lereng semeru. Akhirnya kami sampai di puncak tertinggi di Pulau jawa yaitu “Mahameru” yang merupakan nama puncak tertinggi di Gunung Semeru. Sunrise pun menyambut kedatangan kami dan seolah menyapu semua rasa capek di tubuh ini. Kamipun sangat bersyukur bisa sampai di puncak tertinggi di pulau jawa ini, matahari pagi menyingkap kabut-kabut yang menghalangi indahnya pemandangan alam disekitar gunung ini. Sungguh perjalanan yang luar biasa capeknya dan membutuhkan perjuangan yang ekstra untuk bisa sampai kepuncak. Dari indahnya pegunungan bromo tengger, Arjuno-welirang, Argopuro hingga kota Malang dan Lumajang terlihat jelas dari puncak. Tak lupa kawah Jonggring Saloka yang masih diam alias belum beraktifitas kami potret sebagai oleh-oleh picture dari puncak.









         Setelah kami rasa puas, kamipun turun sekitar pukul 07.30 WIB. Perjalanan turun inilah yang sangat menyenangkan menurut saya, karena kita bisa berlari dari puncak ke bawah dengan cepat, tetapi tetap memperhatikan konsep kehati-hatian dalam melakukannya. Di tengah perjalanan turun baru kami dengarkan suara menggelegar dari puncak yang ternyata saat itu dimulainya aktivitas gunung ini yang mengindikasikan semua pendaki harus turun saat itu juga. Cuma 2 jam waktu yang dibutuhkan untuk turun dari puncak ke Kalimati. Sungguh perjalanan yang melelahkan dan tak terlupakan bagi kami.

Sesampainya di Kalimati, kami istirahat sambil memasak makanan yang terakhir. Sekitar pukul 13.30 WIB kami memutuskan bersiap-siap untuk kembali ke bawah, kamipun berangkat meninggalkan kali mati untuk menuju  Ranu kumbolo. Dalam perjalanan yang tak begitu sulit karena kebanyakan turunan, kami banyak berjumpa dengan para pendaki yang berlalu lalang dengan kami sepanjang perjalanan. Sekitar pukul 15.00 WIB kami akhirnya sampai di Ranu kumbolo disertai turunnya hujan deras sekaligus.




 Setelah sekitar setengah jam berteduh di shelter ranukumbolo dari derasnya air hujan yang turun, di tengah-tengah hujan gerimis kami nekad melanjutkan perjalanan kembali untuk turun karena waktu berjalan sedemikian cepatnya. Kami harus sampai di pos perijinan tepat waktu sekitar pukul 17.00 WIB, karena apabila kami telat. Kami takut dalam perjalanan pulang dari Ranu Pane ke Tumpang tak ada lampu dan lebih membahayakan lagi karena kami Cuma naik motor dan melewati jalanan turun yang kondisinya berbatu-batu. Kami bagaikan kereta api ekspress yang berjalan melintasi alam semeru tanpa berhenti sama sekali. Kamipun tak mengelakkan tubuh kami basah kuyub karena diawal perjalanan dari ranu kumbolo sudah kehujanan dan diperparah lagi oleh kondisi trek yang sangat licin akibat banyak air yang tergenang di sepanjang perjalanan. Sehingga kami harus ekstra hati-hati bila tak mau jatuh ke jurang di seberang kami. Diluar perdugaan kami perjalanan pulang dari Ranu kumbolo ke Ranu Pane juga membutuhkan waktu yang agak lama pula yaitu kurang lebih 3 jam. Sesampainya di pos 2 kami memutuskan istirahat sebentar untuk minum dan makan biscuit sebentar, karena petang sudah menjelang. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan sambil menyiapkan senter untuk penerangan sepanjang jalan turun. Untuk melakukan perjalanan turun ini, kami benar-benar diuji oleh banyak hal. Stamina dan kondisi badan yang sudah drop alias menurun drastis disertai kehujanan sepanjang perjalanan membuat perjalanan turun sangatlah berat. Tapi kami harus tetap focus dan berkonsentrasi jalan terus untuk cepat sampai di tempat tujuan, meskipun dalam perjalanan hati kami merasa tak enak karena kami berada di tengah hutan malam-malam.
Akhirnya sekitar pukul 19.00 WIB sampailah kami Pos perijinan Ranu pane dan melanjutkan perjalanan turun lagi menuju rumah salah satu penduduk di Ranu Pane tempat kami menitipkan sepeda motor. Untungnya si pemilik rumah baik hati kepada kami, kami diberi saran agar tak pulang dulu malam itu dan sebaiknya menginap saja dulu dirumahnya. Akhirnya kami menginap dirumahnya malam itu dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah keesokan paginya. Demikianlah akhir cerita dari pengalaman saya mendaki Gunung Semeru. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari melakukan perjalanan ini dan semoga pelajaran tersebut juga bisa kalian nimati nantinya. Keep our earth, Trust your self and happy find new experience!!!

Thank's to Mahameru, we will are back again,,, 

 

9 komentar:

  1. kalo dari kalimati bisa ga bawa carrier sampai puncak???

    BalasHapus
  2. saran ane mending bawa daypack aja bang yang isinya makanan, minuman dan barang2 yg diperlukan spy gk berat2 bawa beban ke puncak,,,
    pengalaman ane pas muncak ke mahameru, blm ada yg pernah bawa carrier yang isinya full, rata2 bawaannya dikurangin pas dibawah/ ditinggal ditenda...
    medannya berat, bawa badan doang naik bisa 5-6 jam an bang...
    mending perhatiin keselamatan diri sendiri daripada barang bawaan bang, ane jamin insya allah gk ada maling baik dikalimati maupun arcopodo...

    BalasHapus
  3. wah keren neeh bang...
    tapi btw jalur atau rute atau jejak setapak ada kan bang dari ranu pane sampe mahamerunya..???

    thx inffonya,..

    BalasHapus
  4. Sangat jelas keliatan, kecuali jalan turun dari puncak ke kalimati tu biasanya banyak pendaki yang tersesat ke arah jalur arcopodo lama,,, usahakan selalu bertanya bila memang2 betul tidak tahu & mending join dengan rombongan lain bila memang belum mengenal medan semeru...
    keep spirit bro!!!

    BalasHapus
  5. waaaahh mantap klo gt....

    tapi boleh kan gan ane ikut/gabung klo misal agannya mau muncak/hiking/adventure lagi kegunung mana aja deeehh..
    cz mapala kampus ane udah malas ndaki2 gunung....
    mumpung masih muda + masih kuat ndaki2 gunung...
    hehhehhe

    BalasHapus
  6. Boleh2,,, pertengahan bulan oktober ane ada agenda muncak lg ntah ke gunung mana, kalo pengen join sms aja ke no Q: 085730107813..

    Bang ovrilianto asalnya mana tuh??

    BalasHapus
  7. bang rencana 21-25/26 des ini ane mao naek semeru sm temen2.....kalo boleh tau kondisi semeru ankhir desember itu masih memungkinkan untuk didaki ngga, khususnya bagi pendaki pemula???..thnx b4

    BalasHapus
  8. Yg penting perlengkapan pendakian hrs lengkap, soalnya bln desember identik lg ganas2nya musim ujan. jas ujan ato jaket waterproof yg terpenting, cuaca dari pagi hingga malam cenderung mendung terus dan gerimis. hal itu membuat perjlanan agak susah terutama perkiraan bwt muncak, ane saranin seumpama gk bisa berangkat muncak dini hari itu jg, jngan sekali2 dipaksakan masbro, krn hal ini berhubungan dg nyawa anda sendiri....
    Berdoa yg terpenting masbro untuk keselamatan masing2...

    BalasHapus